Jumat, 28 Desember 2012

Cerita Seorang Pipit


Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku


Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang
Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku




sumber foto : metasantika.wordpress.com

Lagu itu selalu terngiang di telinga Pipit sejak dia berumur 5 tahun. Lagu itu menjadi lagu favoritnya hingga sekarang. Ntah apa yang dia senangi dari lagu itu, padahal lagu itu sangat bertolak belakang dari kehidupannya selama ini. Pipit dengan nama panjang Fitria Yustia lahir dengan normal akan tetapi ibunya meninggal saat melahirkannya. Pipit tinggal bersama seorang nenek tanpa merasakan kasih sayang ayah dan ibu. Semua orang pasti bertanya kemanakah ayah dari bocah kecil ini? Jawabannya hanya Tuhan yang tahu. Ayahnya sudah lama pergi meninggalkan ibunya sejak Pipit masih berada dalam kandungan, pergi tanpa alasan.
Sekarang Pipit berusia 28 tahun dengan segala keterbatasan ekonomi dia masih bisa merasakan sekolah hingga tamat perguruan tinggi dengan dibiayai oleh Negara tentunya. Neneknya hanya seorang tukang sayur keliling. Beliau masih mempunyai tenaga diusianya yang mulai beranjak senja. Beliau tidak pernah mengeluh dengan apa yang telah Tuhan anugerahkan kepadanya. Mempunyai raga yang sehat, cucu yang senantiasa menjadi obat dari segala peluh yang dirasakannya serta hidup yang bahagia walau dengan keterbatasan yang ada.
Sedari kecil Pipit tidak mempunyai foto yang dapat dikenang, yang ada hanyalah gambar sketsa wajah saat dia berumur 5 tahun. Gambar itu dibuat oleh seorang mahasiswa  yang sedang melakukan KKN di daerah Pipit tinggal. Mahasiswa itu juga yang memperkenalkan lagu itu kepadanya. Lirik yang ada dalam lagu pun berbanding terbalik dengan kenyataan hidup Pipit sekarang. Pipit hidup tanpa seorang ibu sedari kecil. Tanpa kenangan tentang ibu, tanpa tahu bagaimana suaranya dan tanpa tahu bagaimana wajahnya. Tapi hal itu tidak pernah membuat semangat hidupnya luntur. Walaupun dia tidak memiliki ibu, akan tetapi dia memiliki nenek yang selalu menemaninya. Pipit merupakan cerminan seseorang yang tegar menghadapi hidup, walau tanpa kasih sayang dari ayah dan ibunya dia mampu membuktikan dengan menjadi orang tua asuh dari 15 orang anak. Dia tidak ingin anak-anak yang terlantar hidup tanpa orang tua, akhirnya dia mempunyai inisiatif untuk menjadi orang tua anak-anak terlantar agar mereka dapat merasakan nikmatnya memiliki seorang ibu yang selalu memperhatikan mereka dan memberikan perhatian besar kepada mereka. Karena pada diri merekalah akan timbul rasa sayang dan menyayangi kepada sesama. 

0 komentar:

Posting Komentar